Dalam rangkaian gala premiere film Dilan 1983: Wo Ai Ni, salah satunya digelar di Stasiun Kereta Cepat Halim sebelum bergerak ke Bandung.

Mengerucutkan artian festival menurut khasanah Bahasa Indonesia adalah acara/perayaan yang diadakan untuk merayakan/menghormati sesuatu yang melibatkan kegiatan sosial, budaya, dan hiburan. Festival sering kali mencakup pertunjukan musik, tarian, makanan khas, seni, dan kegiatan lainnya yang mencerminkan tema atau tujuan dari perayaan tersebut.

Falcon Pictures kembali melanjutkan prekuel seri terbaru dari trilogi yang sukses meraup jutaan penonton, yakni film Dilan. Kali ini berjudul Dilan 1983: Wo Ai Ni. Disutradarai oleh Fajar Bustomi dengan naskahnya yang ditulis oleh Pidi Baiq dan Alim Sudio, drama keluarga ini mengisahkan masa kecil Dilan di sekolah dasar.

Kisah Dilan saat duduk di sekolah dasar dihadirkan dalam film Dilan 1983: Wo Ai Ni yang diproduksi oleh Falcon Pictures. Film ini diangkat dari novel karya Pidi Baiq.

Waralaba Dilan yang diadaptasi dari novel karya Pidi Baiq berlanjut dengan prekuel berjudul Dilan 1983: Wo Ai Ni. Prekuel itu akan mengisahkan masa kecil Dilan yang masih mengenyam pendidikan sekolah dasar (SD). Dilan 1983: Wo Ai Ni dibintangi Muhammad Adhiyat sebagai Dilan, sang pemeran utama. Ia memerankan karakter Dilan versi muda, sekitar 7 tahun sebelum Dilan versi Iqbaal Ramadhan.

Jadi salah satu waralaba paling laris sepanjang masa di Indonesia. Semesta Dilan kini bersiap lanjutkan sekuelnya dengan telurkan film Ancika 1995. Masih diangkat dari novel karya Pidi Baiq, kisah Ancika akan berkutat tentang masa kuliah Dilan yang akhirnya bertemu dengan pujaan hati baru selepas putus dengan Milea.

Kelar Dilan, apa lagi? Kawan perlu tonton karya anyar si imigran dari sorga. Biopic musikal yang mengisahkan lika-liku masa berkuliah Pidi Baiq di Institut Teknologi Bandung (ITB). Penasaran mengapa dia peringatkan kita jangan ke Jatinangor terjawab sudah.

Setelah sukses dengan film Dilan 1990 dan Dilan 1991, kali ini Pidi Baiq kembali menghadirkan sebuah karya baru ke dalam dunia perfilman Indonesia. Dengan menyutradarai Film Koboy Kampus, Pidi Baiq dan Tubagus Deddy mencoba menceritakan masa-masa muda mereka saat masih kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Pidi Baiq dikenal sebagai seniman nyeleneh. Namanya jarang sekali jadi pembahasan media. Namun setelah novel karyanya, Dilan 1990 dan Dilan 1991 diangkat ke layar lebar, orang mulai banyak mengenalnya.

Pidi Baiq, penulis trilogi Dilan yang sukses kembali dengan karya terbarunya di dunia perfilman Tanah Air, melalui sebuah film berjudul KOBOY KAMPUS. Sebagai penulis naskah dan juga sutradara, Pidi Baiq memberikan sentuhan yang nyata bagi kehidupan mahasiswa tahun 1998 sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung, Jawa Barat.